Sabtu, 04 Februari 2012










Etos Kerja Meningkat, Inilah Diantara Kiatnya

Oleh karena itu, bagaimana bangsa Indonesia yang juga menyeimbangkan urusan agama tapi juga memiliki etos kerja yang tinggi. Maka, mulai harus dilakukan pembiasaan-pembiasaan positif. Dalam menjawab masalah tersebut, saya mengemukakan minimalnya lakukanlah 4 hal berikut ini, sebagai kiat meningkatkan etos kerja anda :
1. Selalu menyetel dan mengontrol niat bekerja. Sebagai orang beragama anda harus selalu menyetel dan mengontrol niat bekerja bukan hanya untuk mendapatkan materi, tapi yang penting selalu tanamkan untuk mencari keridhaan Allah SWT. Ingatlah sebuah hadis Nabi SAW, “sesungguhnya amal itu tergantung niatnya”. Ketika suatu urusan apa saja entah bekerja, berbisnis atau pekerjaan yang sepertinya bersifat duniawi tapi kalau niatnya mencari keridhaan Allah SWT, maka otomatis pekerjaan itu sudah bernilai ukhrawi (bersifat akhirat), tapi sebaliknya ketika suatu urusan apa saja yang terlihat seperti ibadah dan bersifat akhirat, contoh shalat, berpuasa, membayar zakat, menunaikan ibadah haji dll, tapi niatnya bukan untuk mencari keridhaan Allah SWT, maka nilai ibadah itu sudah bersifat duniawi. Oleh karena, hendaklah tanamkan bahwa bekerja itu harus ikhlas manakala kita sudah sepakat dengan kontrak kerja beserta konsekuensinya. Bekerja dengan ikhlas untuk menghidupi diri dan keluarga adalah termasuk bagian berjihad di jalan Allah SWT.
2. Dalam bekerja anda harus selalu membuat planning dan target. Banyak orang yang bekerja serabutan. Maksudnya dia melakukan suatu pekerjaan dengan prinsip yang penting selesai. Dia tidak membuat rencana pekerjaannya kapan mulainya dan kapan selesainya. Sehingga bisa jadi, apa yang dia kerjakan menghabiskan waktu cukup lama, tapi hasil pekerjaannya sangat minim. Ada pepatah yang berbunyi “plan your work and work your plan”. Kalau saya dapat membahasakan pepatah itu dengan sebuah prinsip,”merencanakan pekerjaan itu penting dan harus dilakukan, tapi mengerjakan apa yang sudah anda rencanakan jauh lebih penting.
3. Anda harus selalu bekerja secara optimal. Bekerja secara maksimal, masih dibatasi dengan waktu. Ini prinsip dalam penerapan kesuksesan bekerja. Tidak sedikit orang yang bekerja, merasa sudah maksimal, tapi kok hasilnya belum seberapa. Lalu dia berhenti berusaha dan bekerja. Tapi bekerja secara optimal tidak terbatas waktu, dalam arti tidak pernah berhenti dalam usahanya. Sehingga, bila anda sudah merasa bekerja secara optimal, dengan segenap daya upaya yang sudah anda lakukan, sesuai planning, sesuatu pengetahuan dan skill, dan penerapan aturan kerja yang benar, lalu belum mendapatkan hasil yang terbaik, maka boleh kita bertawakkal (berserah diri) kepada Allah SWT. Tidak ada kata menyerah dan berhenti, sebelum anda mencapai keberhasilan. Allah SWT sudah membuat qadha (ketentuan umum). Andalah yang menentukan takdir (ketentuan khusus) mengenai nasib Anda sendiri. Bukan terserah takdir Allah SWT. Tapi terserah takdir anda yang menentukan.
4. Bila hasil yang dicapai dalam bekerja belum optimal, maka anda harus banyak evaluasi diri. Anda harus berani menyalahkan diri sendiri, jangan menyalahkan orang lain atau pihak lain. Mungkin di sana sini banyak kekurangan dan kesalahan yang anda lakukan, sehingga menyebabkan hasil yang tidak optimal. Evaluasi diri dalam pekerjaan berguna untuk meningkatkan hasil kerja berikutnya. Dengan mengetahui kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuat, maka usahakan anda jangan mengulangi kesalahan yang sama. Jangan sampai sudah jatuh, tertimpa tangga lagi. Beruntunglah orang yang sering melakukan evaluasi diri, dan merugilah orang yang melupakan evaluasi diri.
 sumber>>www.mubarokonline.com

Senin, 30 Januari 2012

McDonald's (McD) ITC Roxy Mas

Kategori:
Kuliner / Fast Food
Alamat:
ITC Roxy Mas Jl. K.H. Hasyim Azhari No. 27
Jakarta Pusat, DKI Jakarta
Nomor Telepon:
021-63857828
Peta:

HALO MCD ROXY

Gimana nih tentang komunitas yang mau di buat lewat internet,,,

kalian bisa sharing lewat portal ini,,,

KITA BISAAAAA..........................

Rabu, 09 September 2009

menuju kopenhagen

Oxfam-WWF-Greenpeace: 100 hari Menuju Kopenhagen. Ambil Aksi Sekarang, Menunda Berakibat Bencana!

Posted on 31 August 2009

Aksi bersama Oxfam-WWF-Greenpeace di Bundaran HI

Untuk Dirilis Segera

Jakarta, 29 Agustus 2009: Perubahan iklim tidak hanya telah mengakibatkan bencana tapi juga kerugian ekonomi, terutama bagi negara-negara berkembang. Negara-negara berkembang bukan penyebab masalah namun menderita dampak paling besar karena berkemampuan adaptasi minimal.

Sebagai contoh, Indonesia. “Menjadi bagian dari negara kepulauan terbesar di dunia dengan daerah pesisir terpanjang membuat Indonesia rentan terhadap naiknya air muka laut, banjir, dan badai. Laporan dari Institut Teknologi Bandung menyebutkan bahwa pada tahun 2050, Jakarta diprediksikan mengalami banjir hingga mencakup
± 160,4 km2 atau sama dengan 24,3% total luas kota megapolitan ini akibat kenaikan air muka laut,” jelas Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia.

Fitrian menambahkan, “Kita bisa mengubahnya karena solusi telah tersedia. Dengan waktu yang tinggal 100 hari lagi menuju Konferensi Perubahan Iklim PBB atau UNFCCC (United Nations Framework Conventions on Climate Change) di Kopenhagen, kita harus bisa memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan pembangunan yang menjamin keberhasilan ekonomi tetapi juga menurunkan emisi gas rumah kaca dan dampak negatif lingkungan lainnya , melalui penyediaan energi bersih dengan basis ekonomi kuat lewat kesepakatan perubahan iklim yang ambisius, adil, dan mengikat pada periode pasca 2012. Dengan kata lain, negara maju bersedia menurunkan emisi 40% pada tahun 2020 di bawah level emisi tahun 1990, termasuk melakukan aksi cepat untuk adaptasi perubahan iklim di negara berkembang.”

Hingga kini, walau sudah ada sedikit kemajuan namun hasil dari pertemuan-pertemuan tingkat tinggi belum seperti yang diharapkan – dalam target mitigasi, adaptasi, komitmen pendanaan dan transfer teknologi dari negara maju. Jelas bahwa dukungan kepada negosiasi yang berpihak ke negara berkembang terus dibutuhkan.

Dengan target besar yang harus dikeluarkan UNFCCC di Kopenhagen, maka membangun momentum yang berasal dari publik akan sangat krusial.

“Kampanye Tcktcktck – di Indonesia menjadi Kampanye Tik Tok Tik Tok – diluncurkan secara serentak di Asia Pasifik dan dipusatkan di Bangkok sebagai peringatan kepada pemimpin dunia bahwa waktu semakin sempit. Dibutuhkan ketegasan mereka untuk melindungi jutaan hidup, khususnya masyarakat miskin,” tegas Rully Prayoga, Oxfam International untuk Asia Timur dan Koordinator Global Campaign for Climate Action (GCCA) Indonesia.

Melalui kampanye ini, masyarakat dapat bersama-sama memberikan suaranya kepada pemerintah untuk lebih berperan dalam negosiasi internasional dan kebijakan nasional. Arif Fiyanto, Climate & Energy Campaigner – Indonesia, Greenpeace South East Asia, mendesak, "Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus segera memperbaiki kinerja pemerintah dalam penanganan krisis iklim, menyusun rencana aksi segera dalam rangka memenuhi komitmen internasional yang dibuatnya untuk mengurangi emisi dari deforestasi, dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi kotor, seperti batu bara, yang merupakan sumber dominan gas rumah kaca secara global. Indonesia juga harus beralih ke pemanfaatan energi terbarukan yang aman dan ramah lingkungan."

Arif juga menegaskan, di masa pemerintahannya yang kedua ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemimpin negara terbesar di kawasan Asia Tenggara dan sekaligus menjadi negara yang juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca dapat mengukir sejarah dengan menunjukkan kepemimpinannya dalam mengatasi krisis iklim bersama pemimpin negara di regional maupun diantara pemimpin dunia lainnya.

Utamanya adalah dengan strategi pembangunan yang terkoordinasi dan berwawasan perubahan iklim, yaitu kerja sama antar sektoral, seperti ekonomi, perdagangan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan pekerjaan umum, agar bersama-sama membuat upaya adaptasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim di Indonesia.

Info lebih lanjut, klik www.tcktcktck.org

Senin, 13 Juli 2009

Akibat pemanasan global

Pemanasan global

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990
Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980

Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.