Forum Mcd Roxy
komunitas
Sabtu, 04 Februari 2012
Senin, 30 Januari 2012
HALO MCD ROXY
kalian bisa sharing lewat portal ini,,,
KITA BISAAAAA..........................
Rabu, 09 September 2009
menuju kopenhagen
Oxfam-WWF-Greenpeace: 100 hari Menuju Kopenhagen. Ambil Aksi Sekarang, Menunda Berakibat Bencana!
Posted on 31 August 2009
© WWF-Indonesia/PRIMAYUNTA
Aksi bersama Oxfam-WWF-Greenpeace di Bundaran HI
Untuk Dirilis Segera
Jakarta, 29 Agustus 2009: Perubahan iklim tidak hanya telah mengakibatkan bencana tapi juga kerugian ekonomi, terutama bagi negara-negara berkembang. Negara-negara berkembang bukan penyebab masalah namun menderita dampak paling besar karena berkemampuan adaptasi minimal.
Sebagai contoh, Indonesia. “Menjadi bagian dari negara kepulauan terbesar di dunia dengan daerah pesisir terpanjang membuat Indonesia rentan terhadap naiknya air muka laut, banjir, dan badai. Laporan dari Institut Teknologi Bandung menyebutkan bahwa pada tahun 2050, Jakarta diprediksikan mengalami banjir hingga mencakup ± 160,4 km2 atau sama dengan 24,3% total luas kota megapolitan ini akibat kenaikan air muka laut,” jelas Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia.
Fitrian menambahkan, “Kita bisa mengubahnya karena solusi telah tersedia. Dengan waktu yang tinggal 100 hari lagi menuju Konferensi Perubahan Iklim PBB atau UNFCCC (United Nations Framework Conventions on Climate Change) di Kopenhagen, kita harus bisa memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan pembangunan yang menjamin keberhasilan ekonomi tetapi juga menurunkan emisi gas rumah kaca dan dampak negatif lingkungan lainnya , melalui penyediaan energi bersih dengan basis ekonomi kuat lewat kesepakatan perubahan iklim yang ambisius, adil, dan mengikat pada periode pasca 2012. Dengan kata lain, negara maju bersedia menurunkan emisi 40% pada tahun 2020 di bawah level emisi tahun 1990, termasuk melakukan aksi cepat untuk adaptasi perubahan iklim di negara berkembang.”
Hingga kini, walau sudah ada sedikit kemajuan namun hasil dari pertemuan-pertemuan tingkat tinggi belum seperti yang diharapkan – dalam target mitigasi, adaptasi, komitmen pendanaan dan transfer teknologi dari negara maju. Jelas bahwa dukungan kepada negosiasi yang berpihak ke negara berkembang terus dibutuhkan.
Dengan target besar yang harus dikeluarkan UNFCCC di Kopenhagen, maka membangun momentum yang berasal dari publik akan sangat krusial.
“Kampanye Tcktcktck – di Indonesia menjadi Kampanye Tik Tok Tik Tok – diluncurkan secara serentak di Asia Pasifik dan dipusatkan di Bangkok sebagai peringatan kepada pemimpin dunia bahwa waktu semakin sempit. Dibutuhkan ketegasan mereka untuk melindungi jutaan hidup, khususnya masyarakat miskin,” tegas Rully Prayoga, Oxfam International untuk Asia Timur dan Koordinator Global Campaign for Climate Action (GCCA) Indonesia.
Melalui kampanye ini, masyarakat dapat bersama-sama memberikan suaranya kepada pemerintah untuk lebih berperan dalam negosiasi internasional dan kebijakan nasional. Arif Fiyanto, Climate & Energy Campaigner – Indonesia, Greenpeace South East Asia, mendesak, "Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus segera memperbaiki kinerja pemerintah dalam penanganan krisis iklim, menyusun rencana aksi segera dalam rangka memenuhi komitmen internasional yang dibuatnya untuk mengurangi emisi dari deforestasi, dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi kotor, seperti batu bara, yang merupakan sumber dominan gas rumah kaca secara global. Indonesia juga harus beralih ke pemanfaatan energi terbarukan yang aman dan ramah lingkungan."
Arif juga menegaskan, di masa pemerintahannya yang kedua ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemimpin negara terbesar di kawasan Asia Tenggara dan sekaligus menjadi negara yang juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca dapat mengukir sejarah dengan menunjukkan kepemimpinannya dalam mengatasi krisis iklim bersama pemimpin negara di regional maupun diantara pemimpin dunia lainnya.
Utamanya adalah dengan strategi pembangunan yang terkoordinasi dan berwawasan perubahan iklim, yaitu kerja sama antar sektoral, seperti ekonomi, perdagangan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan pekerjaan umum, agar bersama-sama membuat upaya adaptasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim di Indonesia.
Info lebih lanjut, klik www.tcktcktck.org
Senin, 13 Juli 2009
Akibat pemanasan global
Pemanasan global
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

